Comments Off

Kapan Inovasi Teknologi Pertanian/Peternakan Bisa Dinikmati Petani?

Ist

Oleh:Deny A. Iyai, S.Pt., M.Sc.– Dosen Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua – Papua Barat

Pendahuluan
Sebagai penulis dan sekaligus peneliti pada bidang peternakan di Papua sebuah kalimat pernyataan “Kalo Bukan Sekarang, Kapan Lagi dan Kalo Bukan Kitorang (kita), siapa lagi” adalah merupakan pukulan telak bagi setiap insan pegiat dan pemangku pembangunan di Indonesia akan desakan untuk berbuat yang terbaik pada waktu sekarang/saat ini dan tidak dengan penundaan. Pernyataan ini adalah spirit pembangunan di Papua Barat yang diinisiasi oleh Gubernur Papua Barat, Brigjen (Purn) Abraham Oktovinus Ataruri. Berbicara mengenai “Kapan” adalah suatu statemen yang berkaitan dengan waktu, ruang (space) dan aksi (action). Jika kita hubungkan slogan Papua Barat dengan kata “kapan” maka tersirat “waktu” dimana kita memulai, “ruang” dimana kita melakukan dan “aksi” dimana hal-hal apa saja yang telah, sedang dan akan kita kawal untuk implementasinya. Namun kita memang harus menyadari secara mendalam secara dari berbagai dimensi dalam memajukan kompleksitas pembangunan pertanian dengan dinamikanya. Aspek petani sebagai core dari pembangunan itu sendiri menjadi sentral isu disamping faktor-faktor lain seperti infrastruktur (sarana dan prasarana), sosial-budaya, ekonomi dan politik menjadi relevan sebagai faktor-faktor deteminan pembangunan.

Ist

Apa Itu Petani?
Di Eropa dan negara-negara maju yang namanya status pekerjaan sebagai “petani” orang langsung terkagum-kagum karena hal ini disebabkan status pekerjaan petani adalah status memiliki luasan lahan tertentu dan menjadi manajer atas usahatani yang dilakukan. Selain itu memiliki aset savings (tabungan) yang banyak serta menghasilkan produk dari usahatani yang dijalankannya bahkan memiliki dan mengendalikan sejumlah karyawan tetap dan tidak tetap. Saat ini memang pekerjaan-pekerjaan pertanian di Eropa dan negara-negara maju sedang menuju pada era robotik. Tidak heran bahwa sekarang pada lahan pertanian robot traktor bahkan pemerahan susu ternak sapi perah sudah dilakukan dan disimulasikan dengan sistim robot. Belajar dari situasi ini adalah bukan dilakukan melalui proses yang singkat dan bukan tanpa alasan. Tidak heran sudah banyak investasi yang dikeluarkan. Belanda adalah salah satu negara Uni Eropa yang mengandalkan sektor pertanian dan peternak selain Jerman dan Prancis. Di sana upaya memanusiakan petani berjalan dengan terencana dan terstruktur. Regulasi, investasi, pendampingan bahkan sampai farming research based terus dilakukan. Ibaratnya petani minta hati masih dikasih jantung pula. Artinya bahwa terdapat energi dalam arti luas yang diberikan guna memajukan dan memandirikan pertanian dan peternakan di ketiga negara tadi. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita hanya mau berkutat pada masalah klasik yang banyak dipaparkan oleh pakar-pakar inovasi dan teknologi bahwa tidak berjalannya inovasi dan teknologi disebabkan oleh pendidikan, umur, sikap dan motivasi.
Pertanyaan selanjutnya adalah “Sudahkah kita memanusiakan petani kita?” Jangan lupa bahwa petani kita adalah manusia. Yang namanya manusia berarti punya senses of belonging dan sense lainnya. Oleh karena itu bisakah kita merubah paradigma berpikir kita tentang “petani plus” Indonesia yakni dari “petani tradisional” menjadi “petani berdasi”? Petani plus idealnya adalah petani yang mandiri dengan sumberdayanya dan memiliki produktifitas tinggi, inovatif dan selalu market oriented.
Petani di Indonesia saat ini boleh dikatakan berada pada persimpangan jalan. Begitu banyak studi sudah diinventarisir guna dipahaminya persoalan klasik yang menghambat kinerja mereka. Namun sampai saat ini pula disebutkan pula oleh Musyafak dan Ibrahim (2005) bahwa tingkat pemanfaatan teknologi dan daya adopsi inovasi menurun. Masyarakat petani dan peternak yang tidak/relatif belum familiar dengan terminologi beken penyuluhan pun pasti bertanya-tanya apa itu inovasi dan apa itu teknologi, apakah harus dengan menggunakan mesin elektronik baru dapat dikatakan sebagai teknologi.

Ist

Inovasi dan Teknologi
Inovasi adalah sebuah hasil terobosan pengembangan pemanfaatan pengetahuan, keterampilan teknologi dan pengalaman untuk menciptakan produk (barang dan/atau jasa) yang baru. Selain itu inovasi diartikan juga sebagai proses di mana gagasan, temuan tentang produk atau proses diciptakan, dikembangkan dan berhasil disampaikan kepada pemakai/pengguna akhir lewat mekanisme pasar. Teknologi sendiri adalah cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan, kelangsungan, dan peningkatan mutu kehidupan manusia (UU No. 18 tahun 2002).
Selama ini inovasi teknologi pertanian dan peternakan sudah dinikmati petani/peternak. Namun tidak jarang banyak ditemukan inovasi teknologi yang memiliki banyak kerumitan (high-tech dan non-aplicble) dan tidak membawa margin keuntungan yang besar dengan teknologi sebelumnya yang dipakai petani/peternak. Patut diingat bahwa petani Indonesia adalah seorang adopter yang baik. Nah dimana letak kelemahan seorang adopter inilah yang sesungguhnya menjadi sentral isu. Kelemahan seorang adopter sudah tentu harus menjadi konsen para pemangku kebijakan di Indonesia. Seorang adopter yang sakit perlu didiagnosa tentang kelemahan, kekurangan, dan ketidakberdayaannya, tidak serta merta dibiarkan sakit dan mati lemas di dalam ketidakberdayaannya. Selanjutnya diberikan resep solusi bijak mengatasi berbagai konstrain yang dihadapi. Paradigma berpikir inilah yang semestinya menjadi entri point dalam merumuskan kebijakan yang bersifat nasional. Kelemahan seorang adopter menurut hemat penulis adalah menjadi kelemahan dan kekurangan pihak pemberi inovasi teknologi itu sendiri. Di Indonesia terdapat gap yang besar antara para kreator teknologi dengan para pemakai teknologi. Hal ini menyebabkan inovasi teknologi yang diciptakan tidak relevan dengan kondisi biofisik, sosial-budaya, ekonomi dan politik suatu komunitas masyarakat sebagai end user-nya.
Ada banyak inovasi teknologi pertanian dan peternakan yang sudah dikembangkan di Indonesia oleh departemen teknis terkait. Teknologi yang diperlukan adalah teknologi yang dapat meningkatkan produktifitas tanah, modal (household savings) dan tenaga kerja (Mosher, 1968). Karakteristik inovasi teknologi yang dapat dinikmati petani/peternak adalah kebutuhan petani/peternak sesuai kondisi biofisik, memberikan keuntungan konkrit kepada petani/peternak, relatif tidak rumit dan mudah, mempunyai keselarasan, mengatasi faktor-faktor konstrain, menggunakan sumberdaya alam lokal sebagai bahan baku, terjangkau secara finansial petani baik teknologi maupun spare-partnya, dan mudah diamati (Musyafak dan Ibrahim, 2005).

Ist

Teknologi budidaya tanaman Jarak untuk produksi biofuel di Indonesia dianggap tidak berhasil dan telah mencederai psikologi petani. Hal ini ditandai dengan tidak berhasilnya instansi pemerintah menyediakan market yang jelas bagi produksi tanaman jarak di setiap sentra pengembangan tanaman jarak.
Berbicara mengenai cara “menikmati” teknologi berarti ada “Pros (prospek)” dan “Cons (konstrain)”. Jika teknologi yang disosialisasikan memiliki prospek maka tentunya teknologinya akan diaplikasikan dan bahkan akan banyak dilakukan modifikasi untuk penyederhanaan atau kesempurnaannya. Mengapa? Hal ini disebabkan karena salah satu modal/aset manusia Indonesia adalah kreatifitas, inovatif dan dinamis. Kemampuan adaptasi sesuatu hal yang baru sangat cepat, cekatan dan cakap. Tentunya konstrain menjadi faktor kendala kemandekan teknologi seperti faktor lingkungan perekonomian dan faktor internal petani/peternak (Musyafak dan Ibrahim, 2005). Pemerintah dan stakeholder penting lainnya perlu memikirkan bagaimana mendekatkan petani/peternak dengan konsumen/pasar. Hal ini akan mempengaruhi kebangkitan petani untuk menikmati inovasi teknologi yang dipakai.

Ist

Peran Pemerintah dan Swasta
Tiga pilar inovasi yaitu teknologi, kelembagaan dan kebijakan adalah satu paket unsur penting determinasi inovasi. Inovasi teknologi pertanian/peternakan di Indonesia dikendalikan oleh Litbang pertanian dibawah Kementerian Pertanian. Padalah jika disimak dengan baik keberhasilan teknologi harus seirama dan sejalan dengan aspek kelembagaan dan kebijakan. Ibaratnya naik kapal tidak hanya tahu tentang bagaimana naik kapal. Namun lebih dari itu, bagaimana prosedur naik kapal, apa saja yang harus disiapkan dan dilakukan saat naik kapal dan lain-lain konsekuensi logisnya. Paket inovasi yang diberikan tidak hanya menyangkut proses atau hasil terobosan pemanfaatan atau mobilisasi berupa pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologi) yang baru, namun lebih dari itu aspek yang melekat di dalamnya adalah kebijakan dan kelembagaannya. Kebijakan yang dibuat pemerintah adalah menyangkut kebijakan harga, kebijakan pemasaran, kebijakan struktur (Mubyarto, 1995). Banyak contoh kemandekan inovasi teknologi yang tidak sejalan atau tidak sinkron dengan kebijakan dan aspek kelembagaan. Satu pola kelembagaan inovasi yang perlu dipikirkan adalah pelatihan berbasis komoditi katakanlah sapi. Dari pemeliharaan sampai partus dan sapih dibutuhkan waktu kurang lebih 10 bulan. Dengan demikian waktu pelatihan selama 10 bulan dimana biaya ditanggung oleh pemerintah dan biaya sosial meninggalkan keluarga ditanggung pemerintah selama 10 bulan.
Pada kawasan timur Indonesia khususnya di Papua, NTT dan NTB dengan potensi lahan yang begitu luas dan didukung oleh iklim yang kondusif cocok untuk dijadikan sebagai kawasan sentra produksi daging sapi guna mengejar target 2014 P2SDS di Indonesia. Sejauh ini dari sisi kebijakan tentang peran KTI dan beberapa provinsi yang disediakan untuk program nasional ini belum siap mewujudkan impian target 2014. Kelemahan kebijakan dan kelembagaan membuat program swasembada daging 2014 masih perlu direvitalisasikan. Aspek kelembagaan yang dibentuk oleh pemerintah sampai dengan model kelembagaan yang dapat diadopsi oleh petani/peternak secara kelompok yang appropriate berbasis sosial-budaya setempat. Di Papua selama ini peran koperasi belum memberikan kontribusi yang nyata. Namun pengalaman di provinsi lain, koperasi memainkan peran yang signifikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa ketiga pilar inovasi diatas haruslah matching satu dengan lainnya. Jika ketiga unsur ini telah matching maka ada jaminan bahwa inovasi teknologi dapat dinikmati oleh petani atau peternak.
Peran swasta dirasakan penting sekali kontribusinya dalam pengembangan inovasi teknologi pertanian dan peternakan di Indonesia. Pemerintah seharusnya bisa memberikan jaminan dan kepastian kepada pihak swasta untuk kembali memberikan kontribusi dalam program nasional P2SDS di Indonesia.
Dampak positif dan negatif dari Inovasi Teknologi bagi petani. Berbicara mengeai dampak positif sudah pasti ada. Namun seberapa lama dampak ini bertahan dan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat petani dan peternak adalah pekerjaan rumah selanjutnya. Secara general, program inovasi teknologi diberikan oleh pemberi inovasi selanjutnya jarang/hampir tidak pernah monitoring dan evaluasi dilakukan. Disini sebenarnya kelemahan sistim pendampingan/pembinaan diprogramkan. Ibarat seseorang yang minum es krim dalam waktu 1 menit sama halnya program paket teknologi dikucurkan. Paket teknologi yang diberikan kebanyakan instan dalam penyampaiannya, instan dalam monev. Pengalaman diangkat dari peternak di Lembah Kebar, Kabupaten Manokwari-Papua Barat. Pada daerah ini pada tahun 1980-an diintroduksi ternak sapi. Namun karena lemahnya pembinaan dan monev, maka ternak sapi menjadi feral. Saat ini dengan program P2SDS lembah Kebar masuk prioritas nasional, namun yang terjadi adalah lagi-lagi masalah klasik, yaitu tidak berjalannya program sesuai rencana, sasaran dan harapan. Seorang kepala kampung Janderauw “Jack Anari” pernah mengatakan “pemerintah seakan-akan membuang sampah/mayat diatas lahannya yang subur”. Pada daerah-daerah baru di luar pulau Jawa, seperti pada kawasan Timur Indonesia, dari sisi kelembagaan perlu adanya pos pelayanan pertanian terpadu (P3T) yang dapat menjadi pionir pengembangan masyarakat yang terisolir dari multidimensional aksesibilitas. Hal mana menyebabkan beban ekonomis, beban moral dan psikologi petani/peternak kita terasa berat dan semakin tidak berdaya di atas kekuatannya sendiri.
Cara mengatasi dampak negatif yang muncul sebagai hasil dari krisis multi dimensional ini adalah dengan mengembalikan kepercayaan (trust) akan niat baik pemerintah untuk mengangkat keterpurukan petani/peternak. Paket teknologi yang diberikan seyogyanya mengikuti alur kebutuhan petani/peternak dengan menghitung time skedul difusi penerapan teknologi. Saat ini yang diinginkan oleh petani dan peternak se-indonesia adalah jaminan kepastian dan keseriusan pemerintah. Masyarakat saat ini bukan masyarakat yang kolot dan tidak mengikuti perkembangan kebijakan. Oleh karenanya sudah saatya keberpihakan dan keberdayaan petani/peternak menjadi prioritas. Jika hal ini dilakukan maka tidak dapat dipungkiri lagi sekarang saatnya petani/peternak menikmati paket teknologi tepat guna yang bisa membawa petani/peternak menikmati hari esok yang ceria.

Ist

Penutup
Dengan demikian kapan inovasi teknologi pertanian/peternakan bisa dinikmati petani/peternak dipangaruhi oleh kemampuan/tingkat penyerapan petani akan inovasi yang dibutuhkan (bukan inovasi teknologi yang diinginkan), dalam waktu singkat bisa meningkatkan produktifitas dalam hal ini input lahan pertanian, input kemampuan modal usaha dan keuntungan/pendapatan yang maksimal (savings). Oleh karenanya pondasi penerapan inovasi perlu untuk didesain secara sistematik dari aspek teknologi yang aplicable, kebijakan yang pro-rakyat/petani-peternak dan kelembagaan yang sesuai dengan latar belakang sosial-budaya, ekonomi, hukum dan politik yang mengakar di masyarakat.

Daftar Pustaka
Basuno, E. 2003. Kebijakan sistim diseminasi teknologi Pertanian: belajar dari BPTP NTB. Analisis Kebijakan Pertanian, Vol. 1. No.3.: Sep. 2003.
Mosher, A.T. Menggerakan dan Membangun Pertanian. 1968. Yasaguna Jakarta.
Woran, J., I. Sumpe, H. Manik dan J. Matinda. 2008. Monitoring dan evaluasi pembangunan peternakan Provinsi Papua Barat. Laporan Monev. Kerjasama Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan Prov. Papua Barat dengan Fak. Peternakan Perikanan dan Ilmu Kelautan-Universitas Negeri Papua.
Mubyarto. 1995. Pengantar ekonomi pertanian. LP3ES.
Musyafak, A. Dan T.M. Ibrahim. 2005. Strategi percepatan adopsi dan difusi inovasi pertanian mendukung PRIMA TANI. Analisis Kebijakan Pertanian. Vol.3. No.1. Maret 2005. Hal. 20-37.

Filed in: Daerah, Opini, Papua Tags: 

Get Update

Bagikan Artikel

Artikel Terkait

© 2014 Inspirasi Bangsa. All rights reserved.