1

Ragam dan Prospek Ekonomi Batu Mulia Indonesia

Oleh: Mohammad Taslim, G.G, Perintis laboratorium riset batu permata “Gem Research International (GRI)” Jakarta — Selama jutaan tahun ada sebuah “kekuatan” besar yang tak henti hentinya membentuk permukaan planet bumi ini, membentuk dan mengikis gunung-gunung besar, melelehkan, dan merubah volume batu batuan disekitarnya. Dengan adanya proses inilah berpotensi terjadinya konsentrasi formasi batu mulia dipermukaan bumi. Pegunungan Himalaya adalah salah satu contoh terbesar dalam proses di atas, barisan pegunungan yang cukup luas meliputi Afghanistan sampai Benua Asia lainnya. Para ahli telah menemukan berbagai macam batu mulia di tempat ini, Zamrut dan Rubi di Afghanistan dan Pakistan, Safir yang cukup indah di Kashmir, Rubi di Nepal, bahkan di daratan Myanmar (Burma) mereka telah menemukan Giok dan Rubi yang terbaik di dunia. Proses di atas tidak hanya kita temukan di pegunungan Himalaya saja, namun proses terjadinya konsentrasi formasi batu mulia ini dapat kita temukan di hampir seluruh daratan muka bumi. Benua Afrika dengan Berlian, Rubi, Safir, Zamrut, Chryssoberyl, Opal dan Garnetnya, Benua Eropa dengan Aleksandrit, Amber, Berlian, Zamrut, Feldspar, Garnet, dan Lapis Lazulinya, Benua Amerika dengan Safir, Turmalin, Pirus, di selatan Amerika pun dapat ditemukan batu Zamrut dan Turmalin yang terbaik di dunia, Benua Australia dengan Opal dan Safirnya, dan di Indonesia kita mempunyai konsentrasi formasi Berlian dan Kecubung (Amethyst) di Kalimantan, Opal di Jawa Barat, Mutiara di bagian timur, dan Chalcedony di hampir seluruh wilayah Indonesia, serta kualitas batu mulia di Indonesia ini tidak kalah oleh kualitas batu mulia yang terdapat di negara lain. Namun sepertinya keindahan dan kekayaan alam Indonesia ini masih belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah.
Di Indonesia terlihat cukup tertinggal oleh negara negara Asia lainnya seperti Myanmar (Burma). selama 800 tahun, Myanmar telah menjadikan sebuah daerahnya yang bernama Mogok sebagai produsen Rubi. Kondisi politik di Myanmar merupakan tantangan yang cukup berat, namun sejumlah pertambangan yang berada di daerah ini pada umumnya masih bisa dimiliki dan dioperasikan lewat kesepakatan kerja sama antara pemerintah dan pengusaha swasta. Di daerah lainnya yang bernama Mong Hsu, pengelolaan tambang di daerah ini lebih bervariatif, pemilik tambang, penduduk asli pribumi, serta pejabat militer melakukan kesepakatan kerja sama dalam memberikan lahan lahan mereka kepada para pengembang yang berasal dari luar negeri.
Thailand, di awal abad ke 19 telah menemukan sebuah tambang Safir di dua daerah yang disebut Chantaburi dan Kanchanaburi. Batu mulia yang dihasilkan oleh kedua tambang ini telah berhasil mencukupi kebutuhan pasar dunia akan permintaan Safir kelas menengah, sampai akhirnya ditahun 1990 pemerintah Thailand menutup tambang tersebut dikarenakan konsentrasi depositnya sudah mulai menipis. Dukungan pemerintah Thailand tidak sampai disini, mereka telah berhasil menciptakan negaranya menjadi pusat pengolahan, pengembangan (treatment), dan pusat pemasaran batu mulia yang didatangkan dari negara lainnya seperti Myanmar, Cambodia, Australia, Srilangka, dan Madagaskar. Perhiasan-perhiasan yang terdapat di Jepang, Amerika serikat, dan Eropa sebagian besar telah melewati pasar Thailand terlebih dahulu. Salah satu contohnya adalah Amerika serikat, hampir setengah dari produksi keseluruhan batu Safir dunia terjual ke negara ini. Tahun 2002 Amerika Serikat telah membelanjakan uangnya sebesar 139 juta dolar untuk pembelian sekitar 6,5 juta karat batu Safir, dan lebih dari 5 juta karat didatangkan dari negara Thailand.
Selama menimba ilmu gemologi di Thailand, penulis hampir tidak pernah mendengar dari ahli ahli gemologi di sana yang membicarakan tentang konsentrasi yang cukup signifikan akan formasi batu mulia Indonesia. Penulis hanya mendapatkan informasi tentang adanya penangkaran mutiara di wilayah timur Indonesia, dan setiap menanyakan tentang hal ini, mereka hanya menjawab dengan informasi yang sangat terbatas. Akhirnya duniapun lebih mengenal tambang Safir di Thailand yang hampir punah dibanding mengenal tambang berlian di Indonesia yang kualitasnya cukup bagus dan masih mampu menghasilkan kristal berlian yang cukup besar. Dari sini kita bisa lihat bahwa promosi kekayaan alam khususnya batu mulia dan dukungan pemerintah terhadap ahli geologi, gemologi, dan pengolahan tambang masih sangat rendah.
Batu mulia yang berasal dari Indonesia merupakan salah satu potensi alam yang masih banyak belum dimanfaatkan sebagai komoditi unggulan yang dapat mengangkat negara ini menjadi negara yang lebih maju di bidang ekonomi. Semua mata masih terpaku dengan potensi alam seputar timbunan minyak bumi, gas, dan emas. Potensi alam batu mulia terus menerus bertambah dengan adanya temuan-temuan baru seperti kecubung di Kepulauan Talaud, fosil kayu di Banten, Opal Biru di Sukabumi dan di berbagai tempat lainnya. Beberapa daerah yang memiliki batu mulia diantaranya Giok Nefrit di Aceh, Kecubung Ungu di Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat, Opal Mulia di Banten, Krisoplas Hijau di Jawa Barat, Sulawesi Tenggara dan Halmahera Selatan, Intan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau.
Sayangnya, modal dasar kekayaan batu mulia yang terkandung hampir di seluruh provinsi di Indonesia yang sejauh ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, keberadaan batu mulia yang sebagian besar ada di wilayah pedesaan tertinggal menyebabkan pengusahaannya akan memiliki nilai tambah, yakni meningkatkan pendapatan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja.
Peran Pemerintah
Terkait dengan pemanfaatan potensi batu mulia yang tersebar di seluruh kawasan nusantara masih belum terlihat walaupun telah keluar Keputusan Menteri Industri & Perdagangan No. 385 /MPP/Kep/06/2004 mengenai pemberdayaan potensi alam berupa kandungan batu mulia. Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengungkap potensi terpendam bumi Indonesia mengenai batu mulia beberapa diantaranya yang dilakukan oleh Kementrian Ristek, Kementerian Budaya & Pariwisata, ITB dan UGM.
Bila dikaji lebih lanjut, pengelolaan potensi batu mulia yang serius akan membawa dampak luas di dalam rantai perekonomian Indonesia. Bayangkan saja apabila potensi ini dikembangkan, dampaknya adalah :
a. angka pengangguran menurun,
b. bertambahnya pajak bagi negara,
c. menambah komoditas ekspor barang mentah,
d. peningkatan pendapatan daerah, dan
e. Indonesia tidak hanya sebagai negara pengimpor, namun sebagai negara yang dapat menunjukkan jati diri untuk tidak
tergantung pada negara lain.
Memang, untuk mengelola dengan serius satu potensi negara sangat diperlukan satu moment dimana negara ini bisa bertransformasi dan kembali pada tujuan negara ini, bukan hanya sebagai negara merdeka, tetapi juga untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur ini masih terkendala dengan sistem yang sangat rumit. Ini hanya sebagai masukan bahwa sebenarnya, berbicara tentang batu mulia tidak hanya berbicara masalah tuah, klenik, jimat, atau hanya perhiasan belaka, tetapi rupanya ada yang lebih penting yaitu bagaimana mewujudkan bahwa ini adalah anugerah Illahi, yang pemanfaatannya dapat meningkatkan taraf hidup dan kemakmuran ekonomi Indonesia.
Sumber Batu Mulia
Martapura, merupakan sebuah kecamatan produktif yang terletak di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Daerah ini terkenal sekali dengan kekayaan alam batu mulianya atau intan berliannya, sehingga banyak orang yang mengatakan bahwa Martapura merupakan wilayah pusat intan. Daerah ini menjadi pusat intan karena terkenal dengan olahan intan berliannya dan kreasi bentuk olahan batu mulianya yang indah. Martapura sering menjadi rujukan wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menambah koleksi intan berlian. Hal ini bertolak belakang dengan informasi yang penulis dapatkan selama menimba ilmu Gemologi di Gemological Institute of America (Thailand), sehingga menyadarkan kita bahwa informasi mengenai batu mulia di negeri tercinta ini belum tersebar memasuki dunia pendidikan gemologi internasional.
Jawa Barat dan Propinsi Banten, memiliki potensi tambang batu mulia yang cukup besar jika dilihat dari kontur kandungan mineral di dalam bumi. Jawa Barat memiliki jalur magma yang mungkin berusia sekitar 128 juta tahun yang lalu pada lempengan bagian selatan, yang telah membeku dan pengalami pendinginan, pengkristalan, dan tekanan dari perut bumi. Selain itu di lokasi ini terdapat cadangan fosil kayu (kayu yang telah membantu), dan ini tergolong sangat langka, karena sudah terpendam hampir jutaan tahun didalam bumi. Salah satu Batu yang terkenal yang dihasilkan dari Jawa Barat ini adalah Batu Opal/Kalimaya. Selain itu juga menghasilkan Agate/Akik, Fosil Kayu, Kristokola, Kecubung, Opal Biru, Jaspis, dan lain-lain.
Pulau Bacan Maluku Utara, bahan galian batu mulia yang dijumpai di wilayah ini terdiri dari beberapa jenis mineral silikat yang dapat digunakan sebagai bahan baku batu permata atau batu hias. Selain bahan galian logam, sumber daya bahan galian non-logam di daerah Maluku Utara juga cukup potensial. Jenis batu mulia yang terdapat di daerah ini terdiri atas Krisopras, Krisokola, dan Jaspis.
Dikarenakan adanya prospek yang cerah akan batu mulia Indonesia, semuanya tidak luput dari eksistensi dan keberadaan para penambang dan pengrajin yang secara turun temurun bergelut pada aktivitas tersebut. Permasalahan klasik yang utama adalah pola dan sistem yang dipakai masih menggunakan sistem sederhana dan menggunakan peralatan sederhana pula, hal ini sangat bertolak belakang dengan negara-negara seperti Thailand dan Burma yang sudah menggunakan alat alat modern. Pengolahan batu mulia memiliki potensi yang sangat besar untuk menarik penanam modal untuk berinvestasi di Indonesia, dapat dilakukan dengan cara tradisional sampai yang padat modal.
Secara tradisional, dengan modal Rp. 50.000 hingga Rp. 600.000, seorang pengrajin yang dilatih satu hari, dapat memproduksi desain sederhana yang bisa langsung dijual. Sedangkan untuk produksi massal menggunakan peralatan mesin standar dan khusus, modalnya sekitar Rp. 40 juta hingga ratusan juta rupiah dimana seorang pengrajin dapat membuat 40 batu cincin dari satu kilogram (kg) bahan mentah batu mulia. Sedangkan menggunakan mesin standar dapat mencapai 150 batu cincin. Kalau harga bahan mentah sekitar Rp1.000 per kg, dan harga batu cincin yang kualitasnya memadai sekitar Rp.1.000 per buah, maka nilai jual produk 1 kg bahan mentah mencapai Rp. 40.000 (tradisional), dan Rp. 150.000 untuk proses mesin standar.
Pengolahan batu mulia, tidak hanya terbatas untuk perhiasan, namun dapat diolah juga untuk beragam souvenir seperti plakat, gantungan kunci, bahkan lukisan. Dari survei yang dilakukan DPP-MBI pada 1989, dari 1.096 responden yang berasal dari beberapa strata dan golongan masyarakat, 58% menyenangi dan memiliki batu mulia dengan perincian 31% untuk remaja, 59% PNS, 80% santri, dan 81% pengusaha.
Sejak sekitar 15 tahun terakhir, eksploitasi bahan mentah batu mulia itu, berlangsung tanpa kendali di banyak wilayah Indonesia. Bahan mentah itu sebagian besar diekspor ke Taiwan, Korea, Jepang, Australia, China dan Amerika Serikat. Pengusaha asing yang menetap di Sukabumi, sampai saat ini terus saja menampung bahan mentah dari Banten. Bahkan, beberapa kabupaten di Jawa Barat menjual dengan harga sangat murah untuk fosil-fosil kayu sederhana dengan harga Rp. 200 per kg dan Rp. 1.000/kg untuk fosil kayu Opal, Jaspis Merah, dan Kecubung. Seorang pengusaha Jepang dalam waktu setahun mampu mengevakuasi 3.000 ton batu panca warna di Tasikmalaya Selatan.
Keadaan ini sangat memperihatinkan, meskipun tidak mempunyai bahan baku di negaranya, sekitar 0,15% penduduk Hongkong bergerak dalam usaha kerajinan batu mulia. Sedangkan Indonesia yang berlimpah ruah bahan mentah batu mulia, hanya ada 3.000 pengrajin batu mulia saat ini. Jika saja 0,15% itu di Indonesia, maka penduduk Indonesia yang menikmati usaha itu, mencapai 400.000 orang. Upaya pemerintah untuk menyadarkan masyarakat dan instansi serta institusi pendidikan terkait melalui berbagai media seperti media cetak, media elektronik dan penyuluhan belum membuahkan hasil, bahkan yang paling mengkhawatirkan adalah kegiatan eksploitasi bahan mentah itu untuk diekspor. Walaupun Kepmen tentang aturan ekspor telah diperbaharui namun pengawasan ekspor terutama bahan mentah batu mulia harus ditingkatkan.
Upaya untuk mengurangi aksi buruk yang tidak menguntungkan itu bukan tidak mungkin. Aksi vandalisme bahan mentah batu mulia berupa fosil kayu di Thailand dapat dikurangi dengan berbagai langkah positif oleh Departemen Sumber Daya Mineral Thailand. Pada tahun 1999, Thailand mendirikan museum dan pusat penelitian fosil kayu dan mineral di Provinsi Nakhon Ratchasima. Tempat ini kemudian berkembang menjadi pusat pelestarian fosil kayu dan mineral yang terbuka untuk para peneliti dan kunjungan umum. Begitu juga di Amerika Serikat, vandalisme serupa pernah terjadi di Arizona dan Missisipi namun semuanya dapat ditekan, karena pada tahun 1963, kawasan fosil kayu Arizona itu dinyatakan sebagai taman nasional disusul yang kemudian di Missisipi pada tahun 1966. Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat kemudian mengeluarkan larangan eksploitasi fosil kayu dari wilayah tersebut dengan ancaman hukuman berat. Perubahan status lahan menjadi taman nasional itu membawa berkah bagi masyarakat dan pemerintah Amerika Serikat, tidak kurang dari dua juta wisatawan mengunjungi taman nasional tersebut setiap tahunnya. Model yang diterapkan seperti di Thailand dan Amerika Serikat ini perlu untuk segera diterapkan di Indonesia agar sumber daya mineral yang tidak terbarukan ini dapat dilestarikan dan dimanfaatkan secara optimal.
Ada beberapa hal yang dapat menjadikan potensi batu mulia sebagai salah satu aspek ekonomi obyektif untuk dapat meningkatkan taraf perekonomian rakyat dan pendapatan bagi daerah yang memiliki potensi adalah sebagai berikut :
1. Melakukan kontroling dalam rangka konsisten terhadap Kepmen No.385/MPP/Kep/06/2004 yang intinya tentang pelarangan ekspor
batu mulia khususnya fosil kayu dalam bentuk bahan mentah atau bahan setengah jadi.
2. Menjadikan potensi batu mulia sebagai salah satu hal yang harus di analisis lebih mendalam untuk pengembangannya sehingga
dapat menarik investor baik dalam negeri maupun luar negeri.
3. Mengembangkan sentra-sentra produksi batu mulia yang masih sporadis dan berskala kecil sehingga pemberdayaannya dapat
menambah lapangan kerja, menambah pendapatan daerah dan menambah pendapatan dari sisi pajak.

Filed in: DKI Jakarta, Koperasi dan UKM, Opini

Get Update

Bagikan Artikel

Artikel Terkini

© 3049 Inspirasi Bangsa. All rights reserved.