Comments Off

Trend Ekspor Komoditi Perkebunan

Oleh: Dr.Ir. Imam Mujahidin Fahmid, MT.Dev., Dosen Fakultas Pertanian Universitas Hasanudin, Makasar –
Menurut data, ada lima komoditas perkebunan penyumbang terbesar dalam perolehan devisa yakni kelapa sawit yang ditaksir 19,05 miliar dolar AS dengan volume 19,36 juta ton, kakao 1,284 miliar dolar AS (384 ribu ton). Selain itu yang tak kalah besarnya adalah perolehan devisa dari ekspor komoditas karet pada 2011 diperkirakan 12,4 miliar dolar A (2,61 juta ton), kelapa dan kopra 1,198 miliar dolar AS (1,16 juta ton) serta kopi 1,09 miliar dolar AS (387,7 ribu ton biji kering).
Dari lima komoditi itu, ada dua komoditi yang dikelola secara langsung oleh petani, yaitu kakao dan kopi. Kedua komoditi ini memberi impact sosial dan ekonomi yang sangat tinggi terhadap petani, terutama di Sulawesi dan Indonesia Timur pada umumnya. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan restrukturisasi program peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan. Program diupayakan melalui rehabilitasi, intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi yang didukung penyediaan benih bermutu, sarana produksi, perlindungan perkebunan dan penangan gangguan usaha secara optimal. Selain itu, pemerintah perlu fokus melakukan pembinaan terhadap sejumlah produk unggulan seperti; karet, kelapa sawit, kelapa, kakao, kopi dan lada. Selain itu jambu mete, teh, cengkeh, jarak pagar, kemiri sunan, tebu, kapas, tembakau dan nilam.

Gejala Penurunan
Trend ekspor Sulawesi Selatan nilai ekspor pada tahun 2011 menunjukan turun terus Oktober 2011 sebesar US$16,80 miliar, turun 4,21 persen dibanding ekspor September 2011, akan tetapi memiliki trend kenaikan sebesar 16,70 persen dibanding ekspor Oktober 2010. Nilai ekspor November 2011, US$16,92 miliar, turun 0,20 persen dibanding ekspor Oktober 2011, dan naik 8,25 persen dibanding ekspor November 2010. Desember 2011, nilai ekspor sebesar US$17,20 miliar, turun 0,22 persen dibanding ekspor November 2011, dan naik 2,19 persen dibanding ekspor Desember 2010. Dan, nilai ekspor nonmigas Januari–Desember 2011 sebesar US$162,02 miliar yang terdiri dari produk pertanian US$5,17 miliar, industri US$122,19 miliar, dan pertambangan dan lainnya US$34,66 miliar.
Sedangkan nilai ekspor Sulawesi Selatan Januari 2012 mencapai US$ 81,64 juta. Besarnya nilai ekspor tersebut menurun sebesar 24,44 persen dibandingkan dengan ekspor Desember 2011. Akan tetapi nilai tersebut bila dibandingkan dengan ekspor Januari 2011, nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 37,79 persen. Komoditas andalan ekspor Sulawesi Selatan pada Januari 2012 adalah nikel, kakao, ikan, udang, dan kepiting , kayu/barang dari kayu, dan biji-bijian berminyak, dan tanaman obat.
Negara-negara tujuan Ekspor Sulawesi Selatan adalah; Jepang pada Januari 2012 mencapai nilai terbesar yaitu US$ 40,40 juta, disusul ke Malaysia sebesar US$ 13,25 juta, Amerika Serikat sebesar US$ 6,82 juta, China sebesar US$ 5,59 juta, dan Korea Selatan sebesar US$ 3,38 juta. Nilai ekspor Sulawesi Selatan ke lima negara tersebut mencapai US$ 69,45 juta atau 85,07 persen dari total ekspor Sulawesi Selatan.
Gejala penurunan eksport komoditi perkebunan di Sulawesi Selatan terutama terjadi pada komoditi kakao. Lima tahun terakhir trend produksi kakao terus mengalami penurunan, pada akhir 2011, produksi kakao Sulsel tinggal 160 ribu-an ton. Pada tahun 2000 Sulsel masih mengeksport kakao dengan angka diatas 230 ribu ton. Penurunan ini terjadi terutama oleh semakin tuanya umur kakao, dan melemahnya daya tahan tanaman kakao terhadap serangan penyakit dan hama, dengan tingkat produktivitas yang sangat rendah, hanya antara 0,5-0,8 ton per hektar. Padahal kakao di Sulawesi Selatan berpotensi memproduksi 1,2-1,8 ton per hektar. Sejak digulirkannya program Gernas kakao pada 2008, produksi kakao semakin menurun karena antara lain, program Gernas kakao melakukan re-planting pada sejumlah areal tanaman yang dianggap sudah sangat menurun produktivitasnya. Keadaan ini tentu saja mempengaruhi volume produksi kakao, yang menyebabkan semakin menurunnya eksport komoditi perkebunan.
Pemerintah propinsi Sulawesi Selatan berkeyakinan eksport kakao angka meningkat pada tahun 2015, sebagai efek gari program Gerna. Pada 2015, Sulsel menargetkan untuk mengeksport kakao 300 ribu ton.

Pasar Asia
Permintaan yang stabil terhadap komoditas perkebunan juga terlihat dari negara tujuan ekspor perkebunan Indonesia, seperti Tiongkok dan India yang pertumbuhan ekonominya masih terbilang tinggi di tengah badai krisis global.
Dengan melihat hal itu, ditambah faktor alam yang tetap bersahabat, harga komoditas perkebunan utama Indonesia di pasar global — minyak kelapa sawit, karet, kopi dan kakao — diperkirakan tidak banyak berubah pada 2012. Tekanan naik terhadap harga komoditas perkebunan hanya sedikit terpengaruh oleh sentimen yang masih pesimistis terhadap perekonomian global di 2012.
Data IMF memperlihatkan bahwa walaupun perekonominan global diproyeksikan mengalami stagnasi di 4% tahun 2012, perekonomian Asia, khususnya Asean diperkirakan tumbuh ke 5,6% dari sebelumnya 5,3% di 2011. Artinya, Asia merupakan kawasan yang paling menjanjikan secara ekonomi saat ini, justru ketika negara-negara maju sedang kelabakan menghadapi krisis. Apalagi di dalam kawasan Asean sedang dikonstruksikan lahirnya kerja sama ekonomi regional, yaitu Asean Economy Community (AEC), telah disepakati antara pemerintah kawasan ini untuk penghapusan hambatan perdagangan dengan menihilkan segala jenis hambatan perdagangan baik yang bersifat tarif maupun nontarif. Dengan skema tersebut, Indonesia lebih berpeluang untuk meningkatkan volume komoditas perkebunan untuk masuk ke setiap negara Asean

Peluang dan Tantangan
Untuk mewujudkan harapan dan peluang yang ada, maka perlu upaya untuk melakukan penghiliran industri berbasis agro (pertanian). Program ini selain untuk meminimalkan besarnya ekspor komoditas pertanian dalam keadaan mentah, kehadiran industri pengolahan berbasis agro ini juga bertujuan untuk mendatangkan nilai tambah lebih besar di dalam negeri. Selama ini, tren peningkatan harga komoditas pertanian di pasar internasional serta hasil pertanian yang kurang banyak terserap secara maksimal oleh industri di dalam negeri menjadi pemicu maraknya ekspor dalam keadaan mentah. Karena itu, pembangunan industri hilir yang mengolah komoditas pertanian menjadi produk jadi bernilai tambah tinggi harus direalisasikan. Tingginya kandungan impor bahan baku dan bahan penolong bagi industri nasional menunjukkan masih banyak kendala pada investasi industri yang berbasis bahan baku lokal. Untuk itu, pengembangan industri hilir di sektor agro menjadi prioritas karena berdaya saing tinggi dan bahan bakunya dari lokal.
Selain itu, pemerintah segera berupaya mendorong penghapusan peraturan-peraturan yang menghambat investasi di sektor industri hilir. Termasuk juga pembangunan infrastruktur pendukung yang memang masuk dalam program Masterplan Perluasan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Dalam pengembangan industri hilir ini, pemerintah telah mengeluarkan peraturan pengembangan untuk produk agro, khususnya dari minyak sawit mentah, kakao, dan karet. Melalui peraturan ini, ekspor barang mentah dikurangi secara bertahap. Pemerintah juga harus segera memberikan insentif kepada pengusaha yang memasok bahan mentah ke dalam negeri, dan memberikan disinsentif berupa bea keluar kepada barang mentah yang diekspor.
Untuk menghadapi tantangan itu semua, pemerintah perlu memiliki strategi pengembangan terutama dalam hilirisasi komoditas agro yang memiliki daya saing tinggi itu agar tidak diekspor dalam keadaan mentah.

Filed in: Opini, Perekebunan, Sulawesi

Get Update

Bagikan Artikel

Artikel Terkini

© 2014 Inspirasi Bangsa. All rights reserved.